Beranda | Artikel
Kebahagiaan Bersama Allah
13 jam lalu

Kebahagiaan Bersama Allah merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Amalan-Amalan Hati. Kajian ini disampaikan pada Jumat, 7 Dzulqa’dah 1447 H / 24 April 2026 M.

Kajian Tentang Kebahagiaan Bersama Allah

Eksistensi dan Kemuliaan Manusia

Sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala, eksistensi serta kemuliaan seseorang terletak pada perhatiannya terhadap hati dan jiwa. Seseorang yang senantiasa memperhatikan kondisi hatinya adalah orang yang benar-benar bahagia. Ia akan selalu waspada terhadap kematian hati. Jangan sampai fisik tetap hidup dan anggota badan masih bisa bergerak, kaki melangkah, serta tangan beraktivitas, namun ternyata hatinya telah lumpuh dan tidak lagi mampu melaju menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Fakta yang disayangkan adalah mayoritas manusia lebih khawatir terhadap kematian fisik dan jasadnya, tetapi sama sekali tidak peduli pada kematian hati. Mereka hanya mengenal kehidupan alami (al-hayatut thabi’iyah), yakni kehidupan normal yang berkaitan dengan raga. Padahal, ketidaktahuan terhadap hakikat kehidupan yang sesungguhnya merupakan pertanda kematian ruh dan hati. 

Perumpamaan Kehidupan Dunia

Imam Ibnu Qayyim memberikan permisalan bahwa kehidupan alami yang berkaitan dengan jasad layaknya bayang-bayang yang segera hilang atau tanaman yang cepat mengering dan menguning. Kehidupan ini juga diibaratkan seperti seseorang yang sedang bermimpi melihat sesuatu yang menyenangkan, namun ketika terbangun, ia tidak mendapati apa pun di tangannya.

Khalifah Ar-Rasyid, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, memberikan gambaran yang sangat mendalam mengenai hakikat dunia, hal ini mengingatkan bahwa harta yang dikumpulkan, kedudukan yang diraih, serta segala kesenangan yang dinikmati hanyalah sementara. Beliau menyatakan bahwa jika seluruh perjalanan dunia dari awal hingga akhir diberikan kepada seseorang, maka pada saat ajal menjemput, semua itu hanya akan terasa seperti mimpi. Perumpamaan dunia bagi manusia adalah seperti seseorang yang bermimpi melihat sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan, namun saat terbangun, ia tidak mendapati apa pun di tangannya.

Kendati seseorang menjadi yang terkaya di dunia dan mencicipi segala kenikmatannya, begitu ajal tiba, seluruhnya akan terputus dan sirna. Manusia tidak akan membawa apapun kecuali kain kafan yang menyelimuti jasadnya. Bagi orang yang beriman, hanya amalannya yang akan menemani di alam kubur. Harta, kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan akan sirna tanpa arti. Oleh karena itu, dunia tidak boleh dijadikan tujuan hidup atau penyebab kelalaian. Dunia seharusnya menjadi jembatan untuk menyebrang menuju negeri akhirat.

Akhlak Mulia dan Keberanian

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan salah satu tingkatan kehidupan adalah hidup dalam suasana akhlak yang mulia. Kehidupan seseorang menjadi lebih sempurna dan mulia apabila ia memiliki sifat malu, kesucian hati, kedermawanan, sifat pemurah (karam), harga diri (muruah), kejujuran, serta ketepatan dalam janji.

Terdapat perbedaan nyata antara kehidupan seorang pemberani (syuja) yang teguh pada prinsip kebenaran dengan kehidupan seorang pengecut. Seorang pemberani akan mempertahankan nilai-nilai mulia dan prinsip agamanya sebagai modal hidup, sedangkan seorang pengecut bersedia menyerahkan agamanya karena khawatir kehilangan dunia. Menghiasi diri dengan akhlak mulia, memupuk, serta menyiramnya agar tumbuh subur akan mendatangkan ketenangan batin dan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kehidupan yang Paling Tinggi: Kebahagiaan Bersama Allah

Tingkatan kehidupan yang paling tinggi menurut Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala adalah kehidupan yang penuh kegembiraan, kesenangan, serta kesejukan mata dan ketentraman batin karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tingkatan kehidupan tertinggi adalah ketika jiwa merasakan ketenangan, kegembiraan, dan kesejukan pandangan mata yang bersumber dari kedekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati yang tentram hanya dapat diraih bersama Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Permasalahan utama manusia adalah cara untuk meraih tingkatan tersebut. Seseorang tidak akan mungkin mencapai kehidupan mulia ini jika akal pikirannya masih diperbudak oleh syahwat, dan angan-angannya hanya terpaut pada kelezatan duniawi serta kebiasaan negatif. Kondisi agama yang binasa akibat kemaksiatan, semangat yang rendah, serta akidah yang menyimpang karena tidak bersumber dari Al-Qur’an dan hadits menjadi penghalang utama.

Mustahil bagi seseorang untuk merasakan kegembiraan dan ketenangan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia tenggelam dalam syahwat, terjerumus dalam syubhat, serta berpaling dari pemberi nasihat. Hati yang berada dalam kelalaian dan tidur lelap tidak akan mampu merasakan kehidupan yang mulia tersebut.

Kehidupan hati dan jiwa yang damai bersama Allah ‘Azza wa Jalla tidak dirasakan oleh setiap insan. Banyak manusia yang secara fisik hidup, namun pada hakikatnya mati karena tidak merasakan kehidupan hati. Tanpa mengenal kebenaran dan agama yang lurus, kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan kehidupan hewan ternak (hayatan bahimiyah). Mereka berjalan, berdiri, makan, minum, dan bersenang-senang, namun jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tahapan Menuju Kehidupan Mulia

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala memberikan tahapan demi tahapan serta sebab yang harus diikuti dalam perjalanan meraih kehidupan mulia. Kerinduan orang-orang beriman untuk meraih ketenangan dan kesejukan mata bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi.

Untuk meraihnya, seseorang harus menempuh jalan yang telah digariskan oleh syariat, memperbaiki akidah berdasarkan Al-Qur’an dan hadits, serta membersihkan hati dari noda kemaksiatan. Inilah perjalanan menuju kehidupan yang penuh dengan kegembiraan, kedamaian, dan ketentraman yang hakiki di bawah naungan rida Allah ‘Azza wa Jalla.

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan tahapan pertama untuk memulai perjalanan menuju kehidupan yang mulia. Langkah awal tersebut adalah mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memohon petunjuk kepada-Nya untuk mengetahui jalan yang dapat mengantarkan seseorang pada kegembiraan, ketenangan, serta ketenteraman batin yang hakiki.

Pengenalan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla harus terpatri kuat di dalam hati. Pengetahuan ini akan menanamkan kesadaran akan pentingnya kehidupan akhirat dan menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia yang fana. Kesadaran tersebut senantiasa mendorong seseorang untuk melakukan taubatan nasuha, melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi larangan-Nya, baik secara lahir maupun batin.

Menjaga Kesucian Hati

Seseorang yang menempuh jalan ini akan senantiasa mengawasi hatinya dengan ketat. Ia tidak akan membiarkan satu pun bisikan yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala masuk ke dalam pikiran dan jiwanya. Ia menutup rapat setiap celah bagi was-was setan yang dapat menimbulkan keraguan dan kebimbangan. 

Dengan kondisi demikian, hati akan menyatu dalam cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa kembali kepada-Nya. Ia terbebas dari penjara nafsu serta syahwat, lalu keluar menuju kehidupan yang luas dan mulia karena selalu disertai dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hatinya hanya mengharap rida serta rindu untuk bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kecintaan kepada Rasulullah Sebagai Konsekuensi Iman

Apabila hati telah mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dengan pengenalan yang benar, langkah selanjutnya adalah menanamkan kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasa cinta ini harus mendominasi hidup sehingga konsekuensinya adalah menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai imam, guru, panutan, serta pemandu utama dalam menjalani kehidupan.

Seseorang yang mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan bersungguh-sungguh mempelajari perihal kehidupan beliau, cara wahyu turun kepadanya, serta mendalami akhlak, perilaku, karakter, adab, hingga etika dalam setiap gerak-gerik beliau.. Pengenalan ini mencakup kondisi beliau saat sadar maupun tidur, tata cara ibadah, interaksi sosial, hingga muamalah beliau terhadap keluarga dan para sahabat. Seorang mukmin harus berusaha mengenal beliau secara mendalam di setiap lini kehidupan sehingga seolah-olah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hidup bersamanya, sebagaimana para sahabat dahulu hidup bersama beliau.

Tahapan kedua setelah mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bersungguh-sungguh mengenal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Makrifat atau pengenalan ini akan melahirkan dan menanamkan kecintaan yang mendalam di dalam jiwa. Konsekuensi dari cinta tersebut adalah dorongan kuat untuk mempelajari sirah nabawiyah, mendalami sunnah, serta meneladani akhlak, etika, dan jejak langkah beliau dalam segala hal. 

Memahami Risalah dan Mencintai Wahyu

Apabila hati telah bersemi dengan cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dengan izin Allah, pintu pemahaman terhadap risalah Islam yang beliau bawa akan terbuka. Seseorang akan terdorong untuk memahami syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merenungi wahyu yang diturunkan, yaitu Al-Qur’anul Karim.

Saat membaca setiap surah dalam Al-Qur’an, hati seorang mukmin akan menyaksikan, mengetahui, dan memahami maksud yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik berupa perintah, larangan, wejangan, maupun hukum. 

Melalui tadabbur Al-Qur’an, seseorang dapat mengidentifikasi berbagai sifat dan karakter. Jika ia menemukan sifat yang tercela, ia akan bersungguh-sungguh mengobati hatinya dan meninggalkan sifat tersebut. Sebaliknya, jika ia menemukan sifat yang mulia dan amal saleh, ia akan berupaya keras untuk menyempurnakan dan melengkapinya dalam diri.

Penyingkapan Mata Hati dan Kesadaran akan Sifat Allah

Secara ringkas, tahapan perjalanan spiritual ini dimulai dari mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Hal ini kemudian membuahkan cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta menjadikan beliau sebagai panutan hidup. Selanjutnya, tumbuh kecintaan terhadap wahyu dan syariat yang membawa seseorang pada penghayatan terhadap perintah dan larangan agama.

Tatkala kondisi seorang hamba telah mencapai tahap ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala, akan tersingkap penglihatan batin di dalam hatinya. Ia akan mampu menghadirkan kesadaran tentang sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Sempurna sehingga sifat-sifat tersebut bersemi dan terpatri kuat di dalam hatinya. 

Seorang hamba yang telah mencapai derajat makrifat akan merasakan seolah-olah hatinya melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nyata, seperti mata kepala melihat objek fisik. Hal ini terjadi karena berbagai sifat keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bersemi dan tumbuh subur di dalam hatinya.

Hamba tersebut meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas seluruh makhluk-Nya dan bersemayam (istiwa) di atas Arsy. Ia menyadari bahwa segala perintah turun dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengatur alam semesta. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berbicara melalui wahyu, di antaranya Al-Qur’an, yang disampaikan-Nya kepada malaikat Jibril untuk diteruskan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hamba tersebut juga mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus risalah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Keyakinan ini menuntunnya pada pemahaman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya penguasa alam semesta yang berhak diibadahi tanpa tandingan dan sekutu. Segala urusan berada di tangan-Nya, dan tidak ada satu pun gerak-gerik, manfaat, maupun mudharat yang terjadi kecuali atas izin dan kekuasaan (qudrat) Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nama Allah Al-Hayyu dan Al-Qayyum sebagai Puncak Kesempurnaan

Tatkala keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pengatur dan penjaga semesta telah hadir secara utuh, akan tumbuh persaksian bahwa Allah memiliki segala sifat kesempurnaan. Seluruh sifat kesempurnaan tersebut terkandung dalam nama Allah Al-Hayyu (Yang Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Yang Berdiri Sendiri lagi Mengatur makhluk-Nya).

Kehidupan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kehidupan yang sempurna, yang tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak akan diakhiri oleh kefanaan (azali dan abadi). Kesempurnaan hidup ini mencakup seluruh sifat lainnya:

  • Kehidupan yang sempurna memiliki pendengaran yang sempurna, maka Allah adalah As-Sami.
  • Kehidupan yang sempurna memiliki penglihatan yang sempurna, maka Allah adalah Al-Bashir.
  • Kehidupan yang sempurna memiliki ilmu yang sempurna, maka Allah adalah Al-Alim yang mengetahui perkara ghaib maupun nyata.
  • Kehidupan yang sempurna memiliki kekuatan mutlak, maka Allah adalah Al-Qadir.
  • Kehidupan yang sempurna memiliki keinginan (iradah), maka Allah memiliki sifat Al-Murid.
  • Seluruh perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengatur dan mengurus alam semesta terkandung dalam nama Al-Qayyum

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa bertawasul dengan menyebut dua nama agung, yaitu Al-Hayyu dan Al-Qayyum, terutama saat menghadapi perkara yang berat atau ancaman dalam hidup. Beliau mengajarkan doa pagi dan petang yang mengandung permohonan taufik serta pertolongan melalui istighatsah kepada kedua nama tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam doanya:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku semuanya dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (HR. Al-Hakim, dinyatakan sahih oleh Al-Albani)

Tatkala seorang hamba mengimani dan meyakini sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, khususnya nama Al-Hayyu dan Al-Qayyum, maka ia memahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki segala kesempurnaan zat dan perbuatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

“Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Buruj [85]: 16)

Merasakan Kedekatan dan Kebersamaan Allah

Keyakinan terhadap kesempurnaan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuka persaksian dalam hati hamba mengenai kedekatan dan kebersamaan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bersama hamba-Nya melalui ilmu dan kekuasaan-Nya. Tidak ada satupun yang tersembunyi dari pantauan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagi orang-orang yang beriman, terdapat kebersamaan yang bersifat spesial (ma’iyyah khashshah). Meskipun Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas Arsy, Dia tetap membimbing, menolong, dan menjaga mereka. Tidak ada seorang pun yang keluar dari jangkauan kekuasaan-Nya. 

Seorang hamba harus terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala guna mencapai status sebagai wali Allah. Status ini diraih dengan melaksanakan perkara wajib dan memperbanyak amalan sunnah. Sangat keliru jika seseorang rajin melakukan puasa atau shalat sunnah, namun melalaikan kewajiban seperti puasa Ramadhan atau shalat wajib.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan buah yang sangat manis bagi hamba yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencintai hamba tersebut, maka hamba itu akan mendapatkan bimbingan-Nya dalam setiap panca indra dan gerak-geriknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah. Jika ia memohon kepada-Ku, pasti Aku beri, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Seorang hamba yang telah menjadi kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendapatkan bimbingan dalam setiap aspek kehidupannya. Maksud dari pernyataan bahwa Allah menjadi pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki hamba adalah bahwa setiap gerak-gerik anggota badan hamba tersebut senantiasa dibimbing oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Status kekasih ini diraih sebagai bukti nyata kecintaan hamba kepada Allah melalui pelaksanaan kewajiban yang kemudian disempurnakan dengan amalan-amalan sunnah.

Buah manis dari kecintaan tersebut adalah taufik dan bimbingan yang menyertai hamba dalam setiap langkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan kekasih-Nya; jika ia berdoa, permohonannya dikabulkan, dan jika ia memohon perlindungan, Allah akan melindunginya.

Kehidupan yang Teragung

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa kehidupan yang terbaik, termulia, dan teragung secara mutlak adalah kehidupan hamba yang mencintai Allah sehingga ia pun dicintai oleh-Nya. Ia adalah sosok yang mencintai sekaligus dicintai (muhibbun mahbub). Ketika hamba mendekatkan diri, maka Rabb-nya pun dekat kepadanya. Bimbingan Allah pada pendengaran, penglihatan, serta seluruh anggota badan memastikan hamba hanya melakukan hal-hal yang positif dan dijauhkan dari perkara negatif.

Dua Syarat Meraih Cinta Allah

Dalam menelusuri jalan untuk meraih rida Allah Subhanahu wa Ta’ala, seorang hamba sangat membutuhkan dua hal utama guna mengonsentrasikan hati dalam perjalanan hidupnya:

  1. Kejujuran Cinta (Sidqul Mahabbah): Memastikan bahwa cinta yang bersemi di dalam hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah cinta yang jujur, bukan cinta palsu.
  2. Kesungguhan dalam Melaksanakan Perintah: Membuktikan cinta tersebut dengan bersungguh-sungguh menjalankan perintah Allah, baik yang wajib maupun yang sunah.

Dua pilar ini merupakan kunci utama untuk menjadi kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Intisari nasihat dari Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala ini mengajak setiap jiwa untuk terus melakukan evaluasi diri. Kehidupan hati yang bersemi dengan makrifat kepada Allah, kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta semangat untuk memahami dan melaksanakan syariat merupakan nikmat yang harus terus dipupuk.

Semoga tanaman keimanan dan pohon kecintaan tersebut tumbuh bersemi serta memberikan buah yang lezat dan manis dalam kehidupan. Penjelasan mengenai hakikat kehidupan yang sesungguhnya ini akan terus berlanjut guna memperdalam pemahaman dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Download MP3 Kajian Kebahagiaan Bersama Allah


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56188-kebahagiaan-bersama-allah/